Bagaimana Menyentuh Hati

📢📢📢📢📢📢📢📢📢 📢

📚Reading Day📚

Resume oleh Iman
Judul Buku : Bagaimana Menyentuh Hati
Penulis : Abbas As-Siisiy
Editor : Wahid Ahmadi
Penerbit : ERA Intermedia
Terbitan : II
Tahun Terbit : 2007
No. ISBN : 9799183243
Jumlah halaman : 282 halaman

Dalam memberikan taujih tentang tugas dakwah, Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan perumpamaan dengan perkataanya, “Di setiap kota terdapat pusat pembangkit tenaga listrik. Para pegawai memasang seluruh instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika aliran listrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya niscaya seluruh kota akan gelap gulita. Padahal saat itu tenaga listrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit tenaga listrik, hanya saja tenaga listrik yang ada itu tidak dimanfaatkan.” Demikian, Allah telah menurunkan Al Quran Al Karim kepada kita, dan dialah sebesar-besar energi dalam kehidupan ini. Namun, sumber energi dan kekuatan itu kini dicampakkan oleh kaum muslimin sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan kehidupan pun menjadi rusak. Tugas kita sebagai da’i adalah seperti tugas para pegawai listrik, mengalirkan kekuatan ini dari sumbernya ke hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelilingnya.

Dalam kehidupan ini, manusia dapat dikelompokkan dalam tiga kategori:

Manusia yang berperilaku dengan akhlak islamiyah. Inilah orang yang harus dinomorsatukan, karena mereka lah yang lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga lebih mudah untuk mengajak mereka.
Manusia yang berperilaku dangan akhlak asasiyah. Adalah orang yang tidak taat agama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat. Orang semacam ini adalah urutan kedua.
Manusia yang berperilaku dengan akhlak jahiliah. Orang-orang semacam ini menjadi urutan terakhir dalam prioritas dakwah fardiyah.
Dalam sarana dakwah, kita bisa mengambil dalam hadits, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam: jika bertemu maka berilah salam, jika tidak kelihatan maka cari tahulah, jika sakit maka jenguklah, jika mengundang maka penuhilah, jika bersin dan mengucapkan hamdalah maka jawablah (dengan mengucapkan ‘yarhamukallah’), dan jika meninggal dunia maka antarkanlah (ke pemakaman).

Untuk langkah-langkah yang harus ditempuh, dalam hadits lain, dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anggota badan manusia diwajibkan mengeluarkan sedekah setiap hari di mana matahari terbit.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kita dapat bersedekah?” Rasul menjawab “Sesungguhnya pintu untuk berbuat baik sangat banyak. Bertasbih, bertakbir, dan bertahlil adalah sedekah; menyingkirkan duri di jalanan adalah sedekah; menolong orang tuli atau buta adalah sedekah; dan menunjukkan orang yang kebingungan, menolong dengan segera orang yang sangat memerlukan adalah sedekahmu terhadap dirimu.”

Rasulullah saw. bersabda,”Barang siapa memandang saudaranya dengan kasih sayang niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” Yang dimaksud oleh hadits itu adalah pandangan yang ditujukan pada hati dan mengajaknya berbicara dengan lemah lembut.

Salam adalah salah satu dari asma Allah SWT. Mengucapkan salam, baik kepada orang yang Anda kenal maupun yang tidak Anda kenal akan membangkitkan rasa aman, mempererat ikatan, dan menumbuhkan rasa cinta. Rasulullah sendiri telah berwasiat tentang itu. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, ”Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah SWT). Apakah kamu mau jika aku tunjukkan pada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam di antara kamu !” (HR. Muslim)

Di antara taujih Khalifah Umar bin Khathab ra. adalah, ”Tiga hal yang dapat membuat kecintaan saudaramu terhadapmu menjadi tulus (hanya karena Allah SWT) ialah lebih dahulu mengucapkan salam, memanggilnya dengan panggilan yang ia sukai, dan memberikan tempat duduk dalam satu majelis.”

Berjabat tangan bukan sekadar gerakan tangan yang diwariskan secara turun temurun tetapi mempunyai makna dan rasa yang dipengaruhi oleh perbedaan hubungan dan kehendak. Keterpautan antara dua tangan hanya akan dilakukan oleh dua hati yang saling mencintai. Tangan tidak akan bergerak untuk berjabat tangan secara tiba-tiba, tetapi menanti komando dari hati dan pikiran. Jangan lupa pula meletakkan tangan Anda di pundak orang yang Anda cintai karena itu adalah sentuhan yang penuh makna yang hanya dilakukan oleh hati-hati yang saling mencintai.

Da’i yang dapat mengalahkan nafsunya dan yang ingin mempersatukan barisan kaum muslimin demi kebangkitan islam adalah da’i yang mau menerapkan tarbiyah dari Rasulullah saw. Hal ini karena tidaklah mudah bagi orang yang sudah berbangga dengan dosa yang ia lakukan untuk mengalah dan datang kepada orang yang telah menyakiti hatinya lalu menjabat tangan serta memaafkannya.

Seorang muslim yang memiliki orientasi adalah yang memahami firman Allah SWT., ”… bersikap lemah lembut terhadap kaum muslimin.” (QS Al Maidah 54) Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong sesamanya, meski ia harus mengorbankan harga dirinya di mata manusia karena ia menyadari bahwa harga diri yang hakiki terletak pada keteguhan aqidah dan kebaikan akhlak.

Sarana-sarana untuk membuka hati mad’u sangatlah banyak. Rasulullah saw. bersabda,

”Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT. adalah orang yang paling berguna bagi orang lain.”

”Sebaik-baik amal perbuatan adalah membuat orang muslim lainnya merasa gembira atau meringankan kesulitannya atau membayarkan hutangnya atau memberinya makan.”

”Berjalan menemani saudara seiman dalam rangka menyelesaikan keperluannya lebih saya sukai daripada beri’tikaf di masjid selama sebulan.”

”Barang siapa mampu menahan amarahnya, Allah SWT. akan menutup auratnya; barang siapa mampu menahan amarah yang mestinya dapat ia lampiaskan maka Allah akan mengisi hatinya dengan keridhaan di hari kiamat; dan barang siapa berjalan bersama saudaranya seiman dalam sebuah keperluan sehingga keperluan itu terpenuhi maka Allah akan mengokohkan kakinya pada hari di mana semua kaki tergelincir.”

”Sesungguhnya perilaku yang jelek dapat merusak perbuatan seperti cuka yang merusak madu.”

Sarana-sarana dakwah yang penting ada dua yakni dakwah tanpa kata-kata dan dakwah dengan kata-kata. Dakwah tanpa kata-kata tercermin dalam dakwah lewat qudwah hasanah (keteladanan). Cara ini lebih cepat membawa orang untuk percaya dan menerima ajakan. Imam As-syahid Hasan Al Banna telah menyatakan, ”Kitab yang terletak di perpustakaan sedikit yang membacanya tetapi seorang muslim sejati adalah ’kitab terbuka’ yang semua orang membacanya. Ke mana saja ia pergi, ia adalah ’dakwah yang bergerak’.”

Dakwah harus menggunakan sarana yang syar’i, seperti kata-kata dan penjelasan. Sarana untuk mengajak manusia kepada Allah sangat banyak dan beragam. Yang paling umum digunakan adalah komunikasi verbal, untuk menyampaikan pesan kepada akal, perasaan, dan hati, baik dengan ungkapan maupun tulisan.

Agar dakwah kita berhasil maka seorang da’i harus memiliki dua sifat yaitu cerdas dan bersih. Yang dimaksud adalah cerdas akalnya dan bersih hatinya, yaitu dapat memandang sesuatu secara proporsional, tidak ditambah atau dikurangi, serta hati yang dapat mencintai dan menyayangi orang lain.

Sesungguhnya dakwah semacam ini tidak mengguanakan cara kekerasan dan eksrimisme. Dalam sejarah dakwah para nabi, rasul, dan para da’I yang ikhlas, tidak ada bentuk kekerasan sedikit pun. Untuk membuktikannya, cukup membaca firman Allah swt. “Maka disebabkan karena rahmat dari Allah-lah maka kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuknya, dan bermusyawarahlah dengan mereak dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, meka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali Imran: 159)

Dakwah kepada Allah itu seni yang amat tinggi, diilhami oleh aqidah dan diperbaharui oleh indra yang peka, bersih, dan terdidik, diperjelas dengan keterampilan berimprovisasi dan dibalut dengan jiwa yang ramah dan berseri.

☀☀☀☀☀☀☀☀☀☀
📬 ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🏠Alamat Sekretariat :
Perum Saruni Permai Blok II No.19 Rt 002/009 Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten Indonesia 42216

Official Account :
F : Komunitas Baca Pandeglang
T : @kbpandeglang
Ig : @komunitasbacapandeglang
B : kbpandeglang.wordpress.com
P : 0878-0835-1101 / 0896-5207-2631

💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢
Komunitas Baca Pandeglang
“Pandeglang Membaca, Pandeglang Cerdas”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s