Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk

πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’ πŸ“’

πŸ“š Reading Day πŸ“š

Resume Oleh : Andri Nuari Riansyah
Judul Buku : Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk
Penulis : Ahmad Rifa’I Rif’an
Penerbit : PT.Elex Media Komputindo – Kompas Gramedia
Cetakan Ke : 13 (Edisi Revisi)
ISBN : 978-602-02-5666-5
Jumlah Halaman: 358 Halaman

Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk

β€œTuhan, maaf kami orang-orang sibuk. Kami memang takut neraka, tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang berharap surga, tapi kami hampir tak ada waktu untuk mencari bejal menuju surga-Mu.”
Berapa jam dalam sehari Anda sempatkan waktu Anda untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah? Berapa penghasilan yang Anda sisihkan dalam sebulan untuk bersedekah?
Ya, dari dua pertanyaan itu sudah menunjukan karakter kita yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan dunia daripada akhirat.

Tak sadar dihapan Tuhan seolah-olah kita adalah orang tersibuk, padahal seluruh waktu, seluruh jatah usia, bahkan hidup kita seharusnya kita persembahkan dalam pengabdian kepada-Nya. β€œDan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat : 56)
Ketika bos kita memanggil, betapa takutnya kita sehingga dengan cepat kita menghadapnya, namun ketika panggilan Tuhan berkumandang, betapa berani dan lamanya kita untuj menghadap-Nya. Padahal yang memanggil kita adalah Tuhannya bos, Atasannya atasan.

Saudaraku, dengarlah kalimat-kalimat muadzin yang berkumandang paling tidak lima kali sehari. Kalimatnya tak hanya mengajak kita untuk melaksanakan shalat, tetapi disusul dengan tawaran kesuksesan. Dengarlah panggilan Tuhan yang dikumandangkan oleh muadzin, Hayya’alal falah. Mari meraih kemenangan. Seolah tuhan berkata, wahai manusia, berhentilah dari rutinitas kerjamu, istirahatlah sejenak dari kesibukanmu. Shalatlah, dan sambutlah kemenangan. Shalatlah, dan sambutlah kesuksesan. Shalatlah, dan yakinlah kerjamu akan membuahkan keberhasilan dan lebih berkah.

Betapa kecilnya harga uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Betapa murahnya angka satu juta ketika kita sedabg shopping. Betapa kecilnya angka seratur ribu ketika kita belikan pulsa. Tetapi ketika ada kotak amal berjalan, ketika ada pengemis mengiba pinta, ketika ada anak kecil dengan wajahnya yang kusam mengamen dan menadahkan tangannya yang masih suci, berapa jumlah uang yang kita ambil dari dompet? Betapa besarnya nilai uang seratus ribu apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke mal untuk dibelanjakan.

Saudaraku, berapa waktu pagi yang kita habiskan untuk membaca Koran? Kemudian bandingkan denan berapa waktu yang kau habiskan untuk membaca Surat Cinta dai Tuhan. Ah, betapa sulit menyempatkan waktu untuk membaca satu halaman Kitab Suci, tapi betapa mudahnya membaca ratusan halaman novel.
Betapa semangatnya kita duduk di barisan paling depan ketika menonton pertandingan atau konser musik, tetapi ketika berjamaah mengapa kita lebih memilih shaf tebelakang?

Ibnu Athaillah berkata, β€œMenunda beramal saleh guna menantikan kesempatan yang lebih luang termasuk tanda kebodohan diri.” Ya, kebodohan diri. Betapa bodohnya diri yang tak tahu berapa lama Allah menjatah umurnya, tetapi dengan tenang ia lakukan aktivitas dunia dengan menunda-nunda kebaikan. Betapa bodohnya jiwa yang telah tahu bahwa belum tentu esok ia masih bisa bernapas lega, tetapi dengan beraninya hidup dalam santai dan lupa bahwa momentum kebaikan takkan terulang untuk yang kesekian kalinya.
Ah, setiap setiap orang begitu takut saat diancam neraka, tetapi kelakuan-kelakuan mereka seolah-olah sedang memohon untuk dimasukan ke neraka secepatnya. Betapa setiap orang ingin menginjakkan kaki dipelataran surge, tetapi kelakuan-kelakuannya justru menjauhkannya.

β€œSemua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan memasukinya. Siapa yang menaatiku akan memasuki surga, dan siapa yang mendurhakaiku, maka dialah orang yang enggan masuk surge. β€œ(HR.Bukhari)
Tuhan, Harap Maklumi Kami
Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.
Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatur jadwal untuk menghadap-Mu.

Tuhan, maaf , selama ini kami merasa sok sibuk. Padahal Engkaulah Yang Mahasibuk. Kami sering kali telat menghadapmu, padahal Engkau tak pernah sekali pun telat member kami makan dan minum setiap hari. Kami sering kali lupa menunaikan kewajibanku pada-Mu, padahal Engkau tak pernah lupa menerbitkan mentari di pagi hari. Kami sering kali lalai mengingat-Mu, padahal Engkau tak ernah sekali pun lalai mempergilirkan siang dan malam. Setiap saat keburukan kami naik disampaikan para malaikat pada-Mu, sementara kebaikkan-Mu setiap detik tercurah kepada kami.
β€œAllah, tidak ada tuhan selain Dia, yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur…” (QS. Al Baqarah : 225)
β˜€β˜€β˜€β˜€β˜€β˜€β˜€β˜€β˜€β˜€
πŸ“¬ βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–

🏠Alamat Sekretariat :
Perum Saruni Permai Blok II No.19 Rt 002/009 Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten Indonesia 42216

Official Account :
F : Komunitas Baca Pandeglang
T : @kbpandeglang
Ig : @komunitasbacapandeglang
B : kbpandeglang.wordpress.com
P : 0878-0835-1101 / 0896-5207-2631

πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’
Komunitas Baca Pandeglang
“Pandeglang Membaca, Pandeglang Cerdas”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s